Perkembangan Batik di Kota Lain

Ditulis pada Kamis, 12 Agustus 2010 | Kategori: Sejarah Batik | Dilihat 2280 kali
Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830, mereka kebanyakan menetap di daerah Banyumas. Pengikutnya yang terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning.

Lama- kelamaan pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja dan pada akhir abad ke-19 berhubungan langsung dengan pembatik di daerah Solo dan Ponorogo. Daerah pembatikan di banyumas sudah dikenalsejak dahulu dengan motif dan warna khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas.Setelah Perang Dunia I pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cina, di samping mereka dagang bahan batik.

Sama halnya dengan pembatikan di Pekalongan. Para pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di daerah ini kemudian mengembangkan usaha batik di sekitar daerah pantai ini, yaitu selain di daerah Pekalongan sendiri, batik tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan, dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah- daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah- daerah lainya, yaitu sekitar abad ke-19. Perkembangan pembatikan di daerah-daerah luar, selain Yogyakarta dan Solo erat hubungannya dengan perkembangan sejarah kerajaan Yogyakarta dan Solo.

Meluasnya pembatikan keluar dari kraton setelah berakhirnya perang Diponegoro dan banyaknya keluarga kraton yang pindah ke daerah-daerah luar Yogyakarta dan Solo karena tidak mau kerjasama dengan pemerintah kolonial. Keluarga kraton itu membawa pengikut-pengikutnya ke daerah baru itu dan di tempat itu kerajinan batik terus dilanjutkan dan kemudian menjadi pekerjaan untuk pencaharian.

Corak batik di daerah baru ini disesuaiakan pula dengan keadaan daerah sekitarnya. Sehingga mempunyai ciri khas masing-masing daerah. Dan, antara satu daerah dengan daerah lainnya banyak sekali perbedaannya terutama di motif yang dikembangkannya.

Batik di Tegal dikenal pada akhir abad ke-19 dan bahwa yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan: pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian meningkat menjadi warna merah-biru. Pasaran batik Tegal waktu itu sudah keluar daerah, antara lain Jawa Barat dibawa sendiri oleh pengusaha-pengusaha secara jalan kaki dan mereka inilah menurut sejarah yang mengembangkan batik di Tasik dan Ciamis. Di samping pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota batik Jawa Tengah.

Pada awal abad ke-19, sudah dikenal mori impor dan obat-obat impor baru dikenal sesudah Perang Dunia I. Pengusaha-pengusaha batik di Tegal kebanyakan lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari Pekalongan dan dengan kredit dan batiknya dijual pada Cina yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Waktu krisis ekonomi pembatikpembatik Tegal ikut lesu dan baru giat kembali sekitar tahun 1934 sampai permulaan Perang Dunia II. Waktu Jepang masuk kegiatan pembatikan mati lagi.

Demikian pula sejarah pembatikan di Purworejo, bersamaan adanya dengan pembatikan di Kebumen, yaitu berasal dari Yogyakarta sekitar abad ke-19. Perkembangan kerajinan batik di Purworejo dibandingkan dengan di Kebumen lebih cepat di Kebumen. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya.

Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Klaten yang letaknya kurang lebih 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Daerah Bayat ini adalah desa yang terletak di kaki gunung, tetapi tanahnya gersang dan minus.. Daerah ini termasuk lingkungan Karesidenan Surakarta dan Kabupaten Klaten dan riwayat pembatikan di sini sudah pasti erat hubungannya dengan sejarah Kraton Surakarta masa dahulu. Desa Bayat ini sekarang ada pertilasan yang dapat dikunjungi oleh penduduknya dalam waktu-waktu tertentu, yaitu makam Sunan Bayat di atas Gunung Jabarkat. Jadi pembatikan di Desa Bayat ini sudah ada sejak zaman kerajaan dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari perajin dan buruh batik di Solo.

Sementara pembatikan di Kebumen dikenal sekitar awal abad ke-19 yang di bawa oleh pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah Islam. Antara lain yang dikenal, yaitu Penghulu Nusjaf. Beliau inilah yang mengembangkan batik di Kebumen dan tempat pertama menetap ialah sebelah timur Kali Lukolo sekarang.Terdapat juga peninggalan masjid atas usaha beliau. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan tengabang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas atau Solo. Sekitar awal abad ke-19 untuk membuat polanya menggunakan kunir yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah: pohon-pohon, burung-burungan. Bahan-bahan lainnya yang dipergunakan ialah pohon pace, kemudu dan nila tom.

Pemakaian obat-obat impor di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia yang akhirnya meninggalkan bahan-bahan bikinan sendiri, karena menghemat waktu. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah di Desa Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya.

Dilihat dari peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita yang turun-temurun, maka diperkirakan di daerah Tasikmalaya batik dikenal sejak zaman Tarumanegara, di mana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum didapat disana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan dikerjakan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya, dan Tasikmalaya kota.

Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah Desa Sukapura, yang terletak di pinggir Kota Tasikmalaya sekarang. Kira-kira akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka banyak dari penduduk daerah Tegal, Pekalongan, Banyumas dan Kudus yang merantau ke daerah barat dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya. Sebagian besar dari mereka ini adalah pengusaha-pengusaha batik daerahnya dan menuju ke arah barat sambil berdagang batik. Dengan datangnya penduduk baru ini, dikenallah selanjutnya pembuatan baik memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik batik-batik asal Pekalaongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna.

Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-19 setelah selesainya peperangan Diponegoro, di mana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke barat. Sebagian ada yang menetap di daerah Banyumas dan sebagian yang meneruskan perjalanan ke barat dan menetap di Ciamis dan Taikmalaya sekarang. Mereka ini merantau dengan keluarganya dan di tempat baru menetap menjadi penduduk dan melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya. Sebagian dari mereka ada yang ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita. Lama kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan sehari-hari atau hubungan keluarga. Bahan-bahan yang dipakai untuk kainya hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainya.

Motif batik hasil Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan. Sampai awal-awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaitannya dengan kerajaan yang ada didaerah ini, yaitu Kanoman, Kesepuhan dan Keprabonan. Sumber utama batik Cirebon, kasusnya sama seperti yang di Yogyakarta dan Solo. Batik muncul lingkungan kraton, dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar kraton. Raja-raja zaman dulu senang dengan lukisan-lukisan dan sebelum dikenal benang katun, lukisan itu ditempatkan pada daun lontar. Hal itu terjadi sekitar abad ke-18. Ini ada kaitanya dengan corak-corak batik diatas tenunan. Ciri khas batik Cirebon sebagian besar bermotifkan gambar yang lambang hutan dan margasatwa. Sedangkan adanya motif laut karena dipengaruhi oleh alam pemikiran Cina, di mana Kasultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Sementara batik Cirebon yang bergambar garuda karena dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.


sumber : Batik Warisan Budaya Asli Indonesia, Aep S. Hamidin, 2010

Puluhan Model, Warna dan Motif Baru Setiap Hari

Langsung Beli Batik Murah Yuk!

 

Komentar Pelanggan

Orderku udah sampe nih. matursuwun ya mbak.. minta ditambah lagi dong koleksi kemeja pria yg XXL. Kemarin order XL pas banget ga boleh tambah gendut hehe...Sari
Alhamdulillaah pesanan sdh sampai... cepat sekali.Kemeja batiknya oke banget.. terima kasih batikunik.comEndang Sulitiawati
Belanja via WA?Hubungi kami di 087839735333