Batik Pekalongan

Ditulis pada Kamis, 12 Agustus 2010 | Kategori: Sejarah Batik | Dilihat 2372 kali
Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat tahun 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.

Namun, perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di Kerajaan Mataram yang sering disebut dengan Perang Diponegoro (Perang Jawa). Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah timur dan barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya, dan Madura. Sedang ke arah barat, batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon, dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu daerah Buaran, Pakajangan, serta Wonopringgo. Dilihat dari proses dan desainnya, batik Pekalongan banyak terpengaruh batik Demak. Itu sebabnya, batik Pekalongan sangat khas.

Hingga awal abad ke-20, hanya proses pembatikan batik tulis. Bahan-bahannya yaitu kain mori, sebagian dibuat dalam negeri, sebagian import. Pasca Perang Dunia I, baru proses pembatikan cap dikenal, di mana masuk beragam obat-obatan kimia dari luar negeri, buatan Jerman dan Inggris.

Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekajangan ialah pertenunan yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Beberapa tahun belakangan baru dikenal pembatikan yang dikerjakan oleh pekerja dengan manajemen bisnis modern.

Batik Pekalongan masih bisa bertahan sampai sekarang, karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik Pekalongan adalah nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.

Meskipun demikian, sama dengan usaha kecil dan menengah lainnya di Indonesia, usaha batik Pekalongan sempat menghadapi masa transisi. Perkembangan dunia yang semakin kompleks dan munculnya negara pesaing baru, seperti Vietnam, menantang industri batik Pekalongan untuk segera mentransformasikan dirinya ke arah yang lebih modern. Gagal melewati masa transisi ini, batik Pekalongan mungkin hanya akan dikenang generasi mendatang lewat buku sejarah. Ketika itu, pola kerja tukang batik masih sangat dipengaruhi siklus pertanian. Saat berlangsung masa tanam atau masa panen padi, mereka sepenuhnya bekerja di sawah. Namun, diantara masa tanam dan masa panen, mereka bekerja sepenuhnya sebagai tukang batik.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mempengaruhi perubahan zaman. Pekerja batik di Pekalongan kini tidak lagi didominasi petani. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan muda setempat yang ingin mencari nafkah . Hidup mereka mungkin sepenuhnya bergantung pada pekerjaan membatik. Apa yang dihadapi industri batik Pekalongan saat ini mungkin adalah sama dengan persoalan yang dihadapi industri lainnya di Indonesia, terutama yang berbasis pada pengusaha kecil dan menengah.

Persoalan itu antara lain, berupa munculnya daya saing yang dtunjukkan dengan harga jual produk yang lebih tinggi dibanding harga jual produk sejenis yang dihasilkan negara lain. Padahal, kualitas produk yang dihasilkan negara pesaing lebih baik dibanding produk pengusaha Indonesia. Penyebab persoalan ini bermacam-macam, mulai dari rendahnya produktivitas dan keterampilan pekerja, kurangnya inisiatif pengusaha untuk melakukan inovasi produk, hingga usangnya peralatan mesin pendukung proses produksi.

Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi salah satu ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tidak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan, dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.


sumber : Batik Warisan Budaya Asli Indonesia, Aep S. Hamidin, 2010

Puluhan Model, Warna dan Motif Baru Setiap Hari

Langsung Beli Batik Murah Yuk!

SALE -15%
Hem Batik Anak Katun Cibulan Melati Tosca
SALE -15%
Hem Batik Anak Katun Parang Pancing
35.000
29.800
SALE -30%
Atasan Katun Motif Saya Garuda
SALE -10%
Hem Batik Anak Klasik
SALE -15%
Hem Batik Anak Katun Cibulan Melati Tosca
39.000
33.200

 

Komentar Pelanggan

Al hamdulilah pesanan saya sudah nyampe tadi pagi sesuai dengan pesanan.Trimaksih.ACHMAD ROKHANI,S.Sos.I
Sip...bati unik brngx bagus2 aq jd bsa jualn batik jg dh...cm saran nih...cb bsa retur.tuker bAr ang untk program resellerx...biar tambah lancar orderx....biar barng yg d jual bs nuter...mkasi baatik unuk...:)Riza
Stay Up To Date !Follow Instagram@batikunikstore