Pola Batik Nitik

Ditulis pada Sabtu, 07 Agustus 2010 | Kategori: Pola Batik di Indonesia | Dilihat 13626 kali
Pola nitik banyak dipengaruhi oleh pengaruh luar, dan pola ini berkembang di pantai utara Jawa, dikarenakan banyaknya akulturasi dengan pedagang-pedagang dari negara lain, seperti India, Cina, dan lain sebagainya. Akan tetapi, dengan perkembangannya pola batik nitik ini diikuti juga oleh pembatik di pedalaman yang dipadukan dengan pola yang sudah ada sehingga menjadi suatu motif yang sangat indah.

Ketika para pedagang dari Gujarat datang di pantai utara Jawa, ia membawa kain tenun dan bahan sutera khas Gujarat. Motif dan kain tenun tersebut berbentuk geometris yang sangat indah, dibuat dengan teknik dobel ikat yang disebut Patola yang dikenal di Jawa sebagai kain Cinde. Warna yang digunakan adalah merah dan biru indigo.



Motif kain patola memberi inspirasi para pembatik di daerah pesisir maupun pedalaman, bahkan lingkungan Kraton. Di daerah Pekalongan terciptalah kain batik yang disebut jlamprang, bermotif ceplok dengan warna khas Pekalongan. Karena terinspirasi motif tenunan, maka motif yang tercipta terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang yang disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan anyaman yang terdapat pada tenunan patola. Karena kain batik jlamprang berkembang di daerah pesisir, maka warnanya pun bermacam-macam sesuai selera konsumennya yang berasal dari Eropa, Cina, dan negara-negara lain. Warna yang dominan digunakan adalah merah, hijau, biru, dan kuning, meskipun masih juga menggunakan warna soga dan wedelan.

Nitik dari Yogyakarta selain berbentuk bujursangkar dan persegi panjang, juga diperindah dengan hadirnya isen-isen batik lain seperti : cecek (cecek pitu, cecek telu), bahkan ada yang diberi ornamen batik dengan klowong maupun tembokan. Sehingga hasilnya mempunyai perbedaan antara motif nitik dari Yogyakarta dengan motif jlamprang Pekalongan, baik dilihat dari bentuk maupun warnanya. Nitik dari Yogyakarta menggunakan warna indigo, soga (cokelat), dan putih. Seperti motif batik yang berasal dari Kraton lainnya, motif nitik kreasi kraton juga berkembang keluar tembok kraton. Lingkungan kraton Yogyakarta yang terkenal dengan motif batik nitik yang inda adalah Ndalem Brongtodiningrat.

Dengan perkembangannya pola nitik memiliki sekitar 70 motif nitik. Dan sebagian besar motif nitik diberi nama dengan nama bunga, seperti kembang kenthang, sekar kemuning, sekar randu, dan sebagainya. Ada pula yang diberi nama lain, misalnya nitik cakar, nitik jonggrang, tanjung gunung, dan sebagainya. Selain tampil sendiri, motif nitik sering dipadu dengan motif parang, ditampilkan dalam bentuk ceplok, kothak, atau sebagai pengisi bentuk keyong dan juga sebagai motif untuk sekar jagad, tambal, dan sebagainya. Paduan motif ini bisa teridiri dari satu macam atau bahkan bermacam-macam motif nitik yang dipadukan. Sehingga dari hasil paduan motif tersebut dengan motif lain dapat membawa perubahan nama, misalnya parang seling nitik, nitik tambal, nitik kasatrian, dan sebagainya.

Seperti halnya motif batik yang lain, motif nitik juga mempunyai arti filosofis, misalnya nitik cakar yang biasa digunakan pada upacara adat perkawinan. Nitik cakar mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu pada bagian motifnya terdapat ornamen cakar (cakar ayam atau kami bagian bawah). Cakar ini oleh ayam digunakan untuk mengais tanah mencari makanan atau sesuatu untuk dimakan. Motif nitik cakar ini dikenakan pada upacara perkawinan dimaksudkan agar pasangan yang menikah dapt mencari nafkah dengan halal sepandai ayam mencari makan dengan cakarnya.

sumber : Batik Warisan Budaya Asli Indonesia, Aep S. Hamidin, 2010 dan

Puluhan Model, Warna dan Motif Baru Setiap Hari

Langsung Beli Batik Murah Yuk!

 

Komentar Pelanggan

Screenshot paket sudah diterima dengan baikDini Sekar Asih
Barangnya dah sampai tepat pada waktunya.. cara belanjanya gampang, transaksinya juga gampang. maksimal banget pelayanannya. sukses buat batikunik. mkasih ya..Syah Ana
Stay Up To Date !Follow Instagram@batikunikstore