Batik Zaman Penyebaran Islam

Ditulis pada Senin, 09 Agustus 2010 | Kategori: Sejarah Batik | Dilihat 1472 kali
Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Disebutkan masalah seni batik di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa ajaran Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid di daerah Patihan Wetan.

Perkembangan selanjutnya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari da sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang, dan kesusastraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari di bidang sastra ialah Raden Ronggowarsito. Kyai Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo.

Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri Kraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri, maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. Di samping itu, banyak pula keluarga kraton Solo belajar di pesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju Ponorogo. Para pemuda dididik di Tegalsari ini dan kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan darma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.

Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kepatihan Wetan, dan dari sinilah meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunkusuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono, dan Ngunut. Waktu itu obat-obatan yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan, antara lain pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kain putihnya juga memakai buatan sendiri dari tenunan gendhong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.

Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah Perang Dunia I yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur. Itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Saking dikenalnya setelah Perang Dunia I sampai pecahnya Perang Dunia II terkenal batik kasarnya, yaitu batik Cap Mori Biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal di seluruh Indonesia.

sumber : Batik Warisan Budaya Asli Indonesia, Aep S. Hamidin, 2010

Komentar Pelanggan

 

Komentar Pelanggan

Barang udah nyampe sesuai pesanan,, mantap....Trimakasih batikunik.com semoga selalu lancar n suksesAminnn....Mohammad Mursyid
Barangnya udh nyampe mb,,cepet bgt...keren2 barangnya...ditunggu produk barunya...thanx...Fri Yuliawati

Customer Service

Butuh bantuan atau ada yang ingin di tanyakan?

Opening Hour :
Senin - Sabtu (08.00 - 16.00 WIB)

Mb Wahyu
Ika
CALL 0813 3578 9676
SMS 0878 3973 5333
BBM 24E604C2
WhatsApp 0878 3973 5333