Batik Zaman Majapahit

Ditulis pada Senin, 09 Agustus 2010 | Kategori: Sejarah Batik | Dilihat 1777 kali
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majapahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya denga kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Mojokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan di daerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu, daerah Tulung Agung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat berkembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang bernama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisinil yang dilancarkan oleh Majapahit, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon di sekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluarga kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal di wilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulung Agung juga membawa kesenian membuat batik asli.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero, dan Sidomulyo. Di luar daerah kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-19, ada beberapa tempat kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila, tom, tinggi, dan sebagainya.

Obat-obatan luar negeri baru dikenal sesudah Perang Dunia I yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, di mana hasil-hasil produksi batik kedung cangkring dan jetis sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojokerto lumpuh karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan sesudah revolusi di mana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.

Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya cokelat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan di Desa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro 1825-1830.

Meskipun pembatikan dikenal sejak zaman Majapahit, namun perkembangan batik mulai menyebar pesat ketika terpecahnya Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik asal Solo dan Yogyakarta.

Dalam berkecamuknya peperangan antara tentara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan Pangeran Diponegoro, maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri ke arah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga kemerdekaan ini Desa Majan berstatus desa merdikan (daerah istimewa), dan kepala desanya seorang kyai yang statusnya turun temurun. Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman Perang Diponegoro itu.

Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik sentra sejak dahulu kala terkenal juga di daerah Desa Sambung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulung Agung pada akhir abad ke-19. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan Solo yang menetap di daerah Sumbung. Selain dari tempat-tempat tersebut, ada juga daerah pembatikan di Trenggalek dan beberapa di Kediri. Tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.

sumber : Batik Warisan Budaya Asli Indonesia, Aep S. Hamidin, 2010

Komentar Pelanggan

 

Komentar Pelanggan

Batiknya udh nyampe mbak,,,packing nya rapih,barangnya bagus bgt sesuai dg yang sy bayangin.pokoke joss lah,CS nya jg sabar ngadepin pelanggan kyk sy pemula,g kapok deh bsok sy pesen lg,,,,mksh batik unik?Senja Fitriana
Orderan saya sudah sampai sist ... lebih cepat dr perkiraan, saya pikir minggu depan, ternyata jumat ini sudah sampai.. thanks ya batikunik :DRenata Retmawati

Customer Service

Maaf, CS kami sedang offline, silahkan mengisi form di bawah ini untuk menghubungi kami

Opening Hour :
Senin - Sabtu (08.00 - 16.00 WIB)

Nama
Email
No. HP
Pesan